,Dunia yang berputar membuat ketenangan sebagai anomali. Sunyi bukan pertanda damai. [[Lanjut->2]]Pada Malam Jum'at ini, udara dingin membungkam langit. Menyembunyikan gosip. Konspirasi. (text-style: "shudder")[Rintihan]. [[Lanjut->3]]Ada di mana kita ketika diam? [[Lanjut->4]]Di pemukiman pinggir kota. Bukan luar kota, tapi perumahan yang jauh dari pusat. [[Lanjut->5]]Daerah dengan rumah-rumah yang sedikit renggang. Mirip dengan kampung. Lahan kosong kecil terlihat di sebuah persimpangan. Tempat mangkal- [['Tukang sate'?->6]] [['Tukang daging'!->6.b]]Tempat mangkal Tukang Sate kaki lima. Mengepul memanaskan arang. Sebentar lagi pelanggan datang. Sebelum itu, kesempatan. [[Lanjut->7]]... tukang daging yang ditusuk. [[...oh->6]]Sambil melirik ke empat penjuru perempatan, sambil mengipas arang, ia mengeluarkan //walkie-talkie//. "Luak Delapan lapor, sudah di lokasi, target belum terdeteksi. Ganti." "Lanjutkan. Ganti," sahut suara dari //walkie-talkie//. (hidden:)|skip>[[Lanjut->8]] (link: '"Siap. Ganti."')[(goto: "8")]Ia lanjut menebalkan malam gelap dengan asap pekat. Merajut tirai putih antara jalan dan perempatan yang berbaur dengan malam dan sesosok- (hidden:)|skip>[[Lanjut->9.b]] (live: 5s)[(goto: "9.b")]Tukang Sate menoleh ke arah asap dan kekosongan. ‘Perasaanku saja,’ batinnya sambil mengipasi lagi. [[Lanjut->10]]Hingga pekat menyelimuti udara sejengkal dari matanya. Dia pikir asap adalah pelindungnya. (hidden:)|skip>[[Lanjut->11]] (live: 5s)[(goto: "11")] Di depan hidungnya, asap tersibak. (hidden:)|skip>[[Lanjut->12]] (live: 3s)[(goto: "12")] (text-style: "rumble")[|creep>["BANG... SATe SepUluh tuSuK..."]] (hidden:)|skip>[[Lanjut->13.b]] (enchant: ?page, (background: #ff0000)) (live: 7s)[(goto: "13.b")] [[...->14]]Tukang Sate tenang sejenak. "Lapar, Neng?" godanya. [["Iya, Mang"->15]] [["Enggak, sih ..."->15.b]]Kuntilanak diam setelah menjawab. [[Lanjut->15.c]] "... cuman lagi serak, Mang. Hehe," jawab Kuntilanak nyengir. [[Lanjut->15.c]]"Ayam berapaan, Bang?" "Ayam lima las rebu, sapi dua lima." Kuntilanak berpikir lagi. [[Ayam->17]] [[Sapi, deh->17.b]]"... ayam deh, tapi dua puluh tusuk," ujarnya. (set: $branch_var_A to 0) Lalu teringat sesuatu. (text-style:"smear")[Suatu pilihan penting buatnya dan mungkin buat kerjaan Si Tukang Sate]. [[Lanjut->17.c]]"Sapi deh, Mang." Tapi kemudian Kuntilanak teringat diet-anti-daging-merah-nya. [["Eh ..."->17]] "Makan di sini," kata Kuntilanak. Tukang Sate menjawab. "Siap, Neng." Terlihat (text-style: "shudder")[gugup] menaruh beberapa tusuk sate di atas panggangan. [[Lanjut->19]]"Eh dibungkus, ya." "Siap, Neng. Mangga antosan," kata Tukang Sate. Kalau ada kursi, ia akan mempersilakan pelanggannya duduk. [[Lanjut->19]]"Nanti panggilin aku di sana, ya." Kuntilanak menunjuk pohon di tanah kosong. Tukang Sate mengangguk. Kuntilanak menuju pohon dan (text-style:"outline")[terbang] untuk bertengger di dahannya. [[Lanjut->20]]Di jalan dekat perempatan, seorang gadis memperhatikan mereka sambil sengaja berjalan pelan agar tidak segera lewat. Ia gelisah menempelkan telepon genggam di telinganya. [[Nguping->21]]"Jeff, maaf aku agak lama nyampenya ya ..." kata Si Gadis ke orang yang diteleponnya. "Kenapa?" Nada lawan bicaranya agak kesal. "Mau muter," jawabnya. "Emang kenapa jalan yang biasa?" (text-style: "blur")["Itu... ada..."] [['tukang sate'->22]] [['setan!'->22]]"Intel?" balas Jeff yang langsung memahami Si Gadis. (text-style: "blur")["Iya! Pas perempatan yang mau ke rumah!"] jerit Si Gadis berbisik. [["..."->23]]"... belok kiri, nanti ketem-" "Iya, tahu jalan muter, mah. Cuma mau ngasih tahu kalau telat," potong Si Gadis. "Oke, oke,", balas Jeff. [[Lanjut->24]]Sebelum Si Gadis sempat mengakhiri percapakan mereka, Jeff melanjutkan,"Nik, maaf ya gara-gara postingan kemarin-" "Udah, ga papa," potong Nik yang mulai berbelok kiri agak pelan biar tidak menarik perhatian Tukang Sate, yang sebenarnya intel, yang sedang asik memanggang sate ayam dua puluh tusuk buat (if: $branch_var_A is 1)[dimakan](else:)[dibungkus] Kuntilanak. [[Lanjut->25]]"Hati-hati pas nanti lewat kebon, ya. Sepi soalnya," lanjut Jeff. "Masih mending daripada dikuntit intel sampe rumah. Dah, ya!" Nik menutup hubungan teleponnya. [[Lanjut->26]]Nik menggenggam erat kedua tali ranselnya sambil melihat jalan sekitar yang agak ramai. Jalannya jadi lebih santai. Jaketnya yang tebal juga menambah rasa hangat. Tambah hangat karena hari ini dia tidak memakai rok. [[Lanjut->27]]Hangat buat nyaman, nyaman buat merasa aman. Rasa aman buat melambat. Nik akan semakin telat. [[Lanjut->28]]Di jalan dia berpapasan dengan dua ‘orang’ wanita yang sedang sesi curhat sambil jalan. Salah satunya menempel tisu di hidung. Satunya lagi (text-style: "shudder")[punggungnya bolong]. [[Kepoin->29]] [[Cuek->29.b]]"Cowok itu semuanya emang brengsek! Lu ga percaya sih kata gua! Gua tuh dah pengalaman ditinggal hamil terus mampus!" seloroh Sundel Bolong pada temannya yang masih terisak. Ceramah lanjutannya tak terdengar saat Nik menjauh, tapi sepertinya tetap tak menghentikan ingus temannya. [[Lanjut->30]]Nik mempercepat langkahnya melalui dua ... orang dan 'orang' itu. Tapi dia akui, kehadiran mereka membuat suasana jadi hangat. [[Lanjut->30]]Nik bergeser ke tengah jalan untuk menghindari becak yang menutupi pinggiran. Dari balik pagar sebuah rumah, muncul tukang becak yang mengangkut karung, mungkin beras, dari dalam becak. Ia diikuti (text-style: "rumble")[kepala melayang] yang mengawasi. [[Lirik->31]] [[Nunduk->31.b]]"Itu taruh di teras aja ya, Mang. Ntar saya terusin," kata Palasik. Agak tertegun, melihat tubuh Palasik ^^|sidenote>[yang tidak ada, jadi dia hanya melihat ruang kosong]^^ Tukang Becak menjawab, "Ah ga apa-apa, Pak. Sekalian ke dapur aja." Palasik terlalu canggung untuk menolak kebaikan Tukang Becak, (text-style: "subscript")["Eh nuhun, Mang. Jadi ga enak,"] katanya sambil agak menunduk. [[Lanjut->32]]Palasik, kepala melayang, tidak punya badan lengan kaki. Tapi mereka memiliki mata yang selalu awas. Nik selalu curiga ada dari mereka yang direkrut intel. Ia mencoba menyembunyikan mukanya dengan poni. [[Lanjut->32]]Dari balik poni yang menutupi matanya, Nik mengalihkan pandangan melewati sekumpulan (text-style:"rumble")[pocong]. [[Sibak poninya->33]] [[Biarin poninya->33.b]]Melompat-lompat ke atas, (text-style:"blink")[teleportasi] satu meter di depannya, lalu turun ke tanah. Begitulah mereka para pocong berpindah. [[Lanjut->34]]Apapun yang dilakukan pocong tidak pernah jelas, pikirnya. Tangan dan kakinya diikat, mukanya tersembunyi seperti Nik dibalik poni. Anak-anak menganggapnya lucu. Itu saja. [[Lanjut->35]]Seorang bocah terkagum dan menunjuk-nunjuki mereka. "Mah, lihat pocong lucu!" katanya sambil tertawa kecil. "Heh! Ulah tutunjuk kitu! Teu sopan!" kata ibunya sambil menepis tangan anaknya. [[Lanjut->35]]Nik berpaling dari itu, dan dari keramaian. Jalan yang ia lalui semakin sepi dari cahaya dan percakapan. Hanya lampu remang teras rumah yang jarang-jarang membantu sedikit lampu jalan menyambung penerangan hingga pertigaan. [[Lanjut->36]]Di pertigaan ada pos ronda dengan tiga pemuda yang jelas sedang tidak bertugas menjaga keamanan lingkungan. Dari jauh, Nik sudah melihat apa kerjaan mereka. Bercengkrama sambil memangku gitar yang tak dimainkan. Mungkin sedang tunggu satu-dua orang lagi untuk main... [[gaple.->37]] [[ML.->37]]Jantung Nik mulai (text-style: "rumble")[berdegup] lebih sakit. Ia mulai merapat ke kiri. Semoga ia bisa segera berbelok di depan ronda tanpa menarik perhatian. [[Santai aja->38.b]] (text-style: "shudder")[[[Tegang->38]]]Nik mencoba untuk santai. Sedikit mengangkat wajah, meniru orang yang percaya diri. Tapi kecepatan ritme (text-style: "rumble")[jantung] tidak berkurang! Begitupun resiko di depannya. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->39]]]Nik mendekap tali ransel lebih erat dan menunduk. Berharap berubah (css:"opacity: 0.5;")[tak terlihat] oleh orang-orang ronda. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->39]]]Salah satu pemuda menangkap Nik di sudut matanya dan memutar kepalanya seperti CCTV mengikuti Nik berjalan. Diikuti siulan. "Malem-malem mau ke mana, Neng?" tanyanya pada Nik yang semakin dekat ke muka pos ronda dari kejauhan. "BO?" timpal pemuda lainnya diikuti (text-style: "shudder")[cekikikan] mereka bertiga. [[Abaikan->40]] [[Judesin->40.b]] (text-style: "shudder")[[[Lari aja deh!->40.c]]]Nik, gadis yang agak judes itu, berusaha mengabaikan mereka. Terus menunduk seperti padi yang tertekuk dan mempercepat langkahnya. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->41]]](text-style: "emboss")[Melotot]. Nik berusaha melakukannya segarang mungkin, berharap itu bisa membuat mereka segan. "Galak banget, Neng!" Yap, tidak berhasil. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->41]]]"Senyum dong, Neng! Biar //cantik//!" seru salah satu pemuda lainnya. (text-style: "shudder")[[[Senyum->42.b]]] (text-style: "shudder")[[[Cepetin jalan->42]]]Nik berpikir, apakah senyumnya yang berharga itu pantas untuk mereka? Ah, sudahlah. Nik senyum beberapa milidetik tanpa melihat ke arah mereka. Tapi sepertinya terlihat dan membuat pondok ronda semakin (text-style: "rumble")[riuh]. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->43]]]Mereka bertiga seperti kamera pengawas yang bergerak tak karuan tapi tetap mengunci satu target: Nik yang ingin segera berbelok di tikungan, menjaga jarak dengan pondok pos. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->43]]]Saat Nik melalui pos ronda yang bergoyang oleh gelak tawa mereka, Nik meningkatkan laju berbelok. Hampir berlari. Menjauhi panggilan tiga pemuda tersebut yang (text-style: "rumble")[bersahutan] bagai panggilan asmara di tengah hutan. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->44]]]Matanya yang memicing diarahkan ke tanah yang berlalu begitu saja. 'Kurang cepat!' pikirnya. Inginnya ia menginjak ban berjalan seperti di bandara. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->45]]]"Neng!" Suara panggilan para pemuda mulai berkurang keramahannya. (text-style: "rumble")[[[Berbalik->46.b]]] (text-style: "shudder")[[[Diem->46]]]Nik menarik napas dalam. Berbalik. Seketika salah satu orang ronda berteriak: (css:"font-size: 36px")["AI LAP YU!"] (text-style: "rumble")[Tawa mereka mengeras]. Sementara Nik meringis. 'Norak!' Ia melanjutkan saja perjalanannya. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->50]]]Nik tetap menunduk agar poni menutup muka sehingga ia tidak pernah melihat muka mereka dan sebaliknya. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->47]]]Saat Nik sudah cukup jauh, ia masih cukup cepat, tapi kurang cepat untuk tidak mendengar sayup terakhir panggilan mereka. (text-style: "blink")[[[Jangan dengerin->48]]]"...sar, ...blag!"(click-replace: '"...sar, ...blag!"')["Dasar, ublag!"(click-replace: "ublag")[lacur]] (hidden:)|skip>[[Lanjut->49]] (live: 7s)[(goto: "49")]Nik menangkap teriakan terakhir itu dan menahan emosinya, yang entah ingin jadi amarah atau tidak. (text-style: "shudder")[[[Ah, bales!->50.b]]] (text-style: "shudder")[[[Tetap tahan->50]]](text-style: "rumble")+(css: "font-size:24px")["..!!!!"] Nik memikirkan segala umpatan kasar. Tapi tak satu pun keluar. (text-style:"blur")[Hanya air mata dari mukanya yang mengigil geram segera diseka ujung lengan jaketnya.] (text-style: "shudder")[[[Lanjut->50.c]]]Tak berapa lama, ia jauh dari kawanan pos ronda dan hampir jatuh tersandung! Saat menginjak tanah mencegah jatuh, ia telah masuk ke mulut jalanan yang semakin gelap. [[Lanjut->51]]Tidak ada lampu di kedua samping jalan yang mulus ini. Hanya semak yang membatasi panjang menuju remang cahaya jauh di ujung. Semak belukar yang menyembunyikan entah apa di baliknya. Mungkin sarang dari nyamuk atau serangga-entah-apa yang bergosip di telinga Nik. [[Lanjut->52]]Nik mencoba menghalau atau menepuk serangga-serangga itu, tapi tidak bisa menghalau (if: $branch_var_B is 1)[emosi](else:)[perasaan tak enak] yang mengganggunya. Sesekali kepalanya celingukan. [[Lihat semak->53.c]] [[Lihat ke belakang->53.b]] [[Lurus->53.d]]Di balik semak itu hanya tanah-tanah kosong. Setelah tanah kosong, ada perkebunan kecil.Tapi katanya sih lagi disengketakan. Mungkin akan jadi peru- (hidden:)|skip>[[Lanjut->53]] (live: 9s)[(goto: "53")]Nik menatap lama ke arah dia datang dengan geram. (text-style:"shudder")['Pemuda-pemuda tadi adalah sampah masyarakat yang tidak bisa dibiarkan!'] pikirnya. Emosi yang tadi sudah dibendung segera membuncah lagi. Namun tiba-tiba ada gangguan. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->53]]]Telepon genggam Nik (text-style:"shudder")[bergetar]. Pesan dari Jeff. [[Baca->54]]'ngingetin' 'ati2 di jalan deket kebon' 'kemarin ada yg dibegal 😱' (text-style:"shudder")[[[Lanjut->55]]]Sangat menenangkan. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->56]]]Tanggung buka telepon genggam..., [[Baca e-book->57]] [[Cek medsos->57.b]] [[Lanjut chatting sama Jeff->57.c]] [[Sakuin lagi deng->57.d]]Nik buka aplikasi //e-book reader// untuk menghalau gelap dan sepi. Semoga bacaan mengisi pikirannya yang takut. (hidden:)|skip>[[[Lanjut->58]]] (live:5s)[(goto: "58")]Nik tidak melihat ada bola merah di icon aplikasi medsos favoritnya. Tapi jarinya refleks menyentuh icon tersebut. //Feed// terbuka- (hidden:)|skip>[[[Lanjut->58]]] (live:5s)[(goto: "58")]Nik memikirkan bahan chat. Mungkin ia akan bercerita soal kejadian di ronda tadi. Ia mulai mengetik. (hidden:)|skip>[[[Lanjut->58]]] (live:5s)[(goto: "58")]Nik mengawasi jalanan yang remang diterangi lampu-lampu dari jauh sambil memasukkan kembali telepon genggam ke dalam saku jaketnya. Benda itu baru setengah masuk ke saku... (hidden:)|skip>[[[Lanjut->58]]] (live:5s)[(goto: "58")]Telepon genggam (text-style:"shudder")[bergetar] lagi. Jeff lagi. [[Baca->59]]‘jangan pake HP!! 📵’ ‘ntar diarah sama begalx 😨’ (text-style:"shudder")[[[Ah, sial->60]]]Nik menyimpan telepon genggamnya lagi di jaket tanpa berhenti sepanjang jalan. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->61]]]Jalanan ini terasa begitu panjang. Nik tahu itu, dan tahu bahwa jalanan gelap seperti ini masih akan panjang lagi setelah belokan di depan. [[Lanjut->62]]Tetap penuh semak dan belukar yang lebat dan banyak serang- (hidden:)|skip>[[Lanjut->63]] (live: 3s)[(goto: "63")](css: "font-size:36px")+(text-style:"shudder")[MOTOR DARI BELAKANG!] [[Berbalik!->64.b]] [[Tenang!->64.b]] { (hidden:)|skip>[[Lanjut->64]] (if: $branch_var_B is 0)[ (set: $temp_branch_var to "64") (link: "LONCAT!")[(goto:$temp_branch_var)] ] (else:)[(set: $temp_branch_var to "64.b")] } { (set: $timer to 5) (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Nik hanya tertegun di tempat saat sekelebat bayangan melintas menghempaskan udara dan memekakkan telinga dari jalur yang jauh di tengah jalan. Tidak ada bahaya, hanya ojol mengantar suster ngesot. (if: $branch_var_B is 0)[[[Lanjut->66.b]]](else:)[[[Lanjut->65.b]]]Nik meloncat hampir masuk ke semak untuk menghindari motor! Tapi sebenarnya yang dihindari sangat jauh dari tepian tempatnya berjalan. Motor yang dikendarai ojol itu melesat 25 km/jam dan sedang dibonceng suster ngesot. [[Lanjut->65]]Yang dibonceng melirik penasaran sebentar ke arah suara di dekat semak yang dibuat Nik. Lalu berbalik cuek. [[Lanjut->66]]Nik kesal dengan sikap kagetannya yang buat dia menginjak lumpur. Sepatu kanvas nya jadi agak kotor dan sepertinya kakinya (text-style: "smear")[terkilir]. Tapi hanya sedikit. Dia masih bisa berjalan searah dengan motor yang sudah meninggalkannya dalam sayup. (set: $branch_var_B to 0)(hidden:)|skip>[[Lanjut->67]] (link: "Lanjut")[(set: $branch_var_B to 1)(goto: "67")]Tak lama berjalan kesal selangkah, (text-style:"shudder")[semak bergetar]. Bukan angin. (text-style:"shudder")[Bergoyang, bergerak-gerak lebih cepat, sesuatu keluar dari semak, dan jantung Nik yang tidak siap] berhenti. [[Diam!->68]] {(if: $branch_var_B is 0)[(text-style:"shudder")[[[Mundur!->68.b]]]<br>] (set: $timer to 7) (set: $temp_branch_var to "68") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Nik meloncat mundur dan bersiap menghadapi apa yang muncul. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->69.b]]]Lalu berdetak lagi dalam hela napas. [[Lanjut->69]]"Eh punten ngagetin, ya?" ujar tuyul perempuan yang baru melompat tepat ke depan Nik dari semak sambil terkekeh. [[Lanjut->70]]"Ceuk saya juga jangan masuk lewat sini segala!" keluh tuyul laki-laki yang mengikuti di belakangnya. "Cicing! Jalan motong kesini paling cepet kalau dari kebon!" Tuyul perempuan balik memarahi temannya. [[Lanjut->71.b]]Setelah lebih tenang, Nik terus berjalan.{(if: $branch_var_B is 1)[ Tak bisa telalu cepat lagi karena (text-style:"smear")[cedera ringan] kakinya.]} Ia ingin segera sampai rumah. Namun jalanan (text-style:"outline")[gelap] yang menuju rumah tersebut juga menjadi pemisah antara dia dengan peristirahatannya. [[Lanjut->72]]Nik bergegas tergesa. Terus meniti di tepian jalan dan berhenti waspada kala mendengar deru motor yang sesekali lewat dari depan atau belakang. Tak ada satu pun yang begal. Hela napasnya yang tersenggal namun lembut kini terdengar mirip ucapan syukur. [[Lanjut->73]]Pertigaan di depan adalah yang terakhir. Nanti belok kanan, ada cahaya. Depan rumah yang ditujunya. Di tikungan, Nik semakin lega, tenang, (text-style:"blur")[lengah]. [[Lanjut->74]]Seketika terdengar putar roda sepeda selangkah di belakangny- (css: "font-size: 24px;")+(text-style:"rumble")[[[BAHAYA!->75]]] [[Santai->75.b]] { (set: $timer to 5) (set: $temp_branch_var to "75.b") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Begal mengayun parang dari belakang! Nik yang menyadari bahaya tetap terlambat menghindar! (text-style:"shudder")[[[Lanjut->76]]]Nik kira, ia hanya pesepeda malam-malam. Ternyata ia mengayunkan parang! (text-style:"shudder")[[[Lanjut->76.b]]]Parang yang dilayangkan begal dari atas sepedanya itu berhasil merobek jaket, kaos, dan daging di bahu Nik! (color: "red")+(text-style:"shadow")[Darah] keluar dengan teriakan menyakitkan! (text-style:"rumble")[[[AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAArgH!->77]]]Si Begal coba menjambret ransel Nik!! (text-style:"shudder")[[[Hajar!->78]]] { (hidden:)|skip>[[Lanjut->78.b]] (set: $timer to 5) (set: $temp_branch_var to "78.b") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Target curian itu dihantamkan ke kepalanya! Meski terluka, rupanya Nik masih bisa memaksa diri mengayun ranselnya yang berat. Mungkin karena panik. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->79]]]Begal mengejar Nik dan mengangkat parangnya. Nik tak bisa bergerak. Gemetar. Pasrah. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->78.c]]]Begal terhuyung. (if: $branch_var_B is 0)[(text-style:"shudder")[[[Lari!->80.d]]]](else:)[(text-style:"shudder")[[[Lari!->80]]]] (text-style:"shudder")[[[Hajar lagi!->80.b]]] (text-style:"blink")[[[Tunggu->80.c]]] { (set: $timer to 7) (set: $temp_branch_var to "80.c") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Nik mencoba lari, namun (text-style:"smear")[terkilir] lagi! Nik berhasil menjaga untuk tidak jatuh, namun kesempatan itu digunakan Si Begal untuk mencoba meraih ranselnya! (text-style:"shudder")[[[Hajar lagi pakai ransel!->81]]] (text-style:"blink")[[[Simpan tenaga->81.c]]] { (set: $timer to 10) (set: $temp_branch_var to "81.c") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Nik mengangkat ranselnya yang berat itu dan membantingnya ke arah kepala Begal!!! Namun, serangannya hanya mendorong sedikit tanpa tenaga. (text-style:"shudder")[[[Coba lagi?->81]]]Nik kebingungan hingga Si Begal kembali bersiap. Ia menyerang dengan parangnya!!! Nik terlambat bereaksi. Parang mendarat. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->78.c]]]Ranselnya yang berat segera diayunkan lagi oleh Nik! Meleset, tapi berhasil menghalau Si Begal untuk mendekat. (text-style:"shudder")[[[Lagi!->82]]] (text-style:"fade-in-out")[[[Capek->82.b]]] { (set: $timer to 7) (set: $temp_branch_var to "82.b") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Begal berhasil meraih ransel Nik, namun Ia melawan. Terjadi adu tarik ransel singkat. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->81.c.1]]]Ga kena. (text-style:"shudder")[[[Lagi!->83]]] (text-style:"fade-in-out")[[[Capek->82.b]]] { (set: $timer to 5) (set: $temp_branch_var to "82.b") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Nik kelelahan. Momen yang ditunggu Si Begal. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->86]]]Hampir. (text-style:"shudder")[[[Lagi!->84]]] (text-style:"fade-in-out")[[[Capek->82.b]]] { (set: $timer to 5) (set: $temp_branch_var to "82.b") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Beberapa kali ransel berat itu diayunkan untuk menghalau begal yang mendekat. Nik lupa teriak dan lupa isinya laptop. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->85]]]Begal jaga jarak. Menunggu Nik yang tangannya terluka mulai kelelahan. Lalu kesempatan itu muncul! (text-style:"rumble")[[[Lanjut->86]]]Tanpa isyarat teriakan, begal membuat sabetan parang!! (text-style:"rumble")[[[Serangan balik terakhir!->87]]] (text-style:"shudder")[[[Mundur!->87.b]]] (text-style:"shudder")[[[Bertahan!->87.c]]] { (hidden:)|skip>[[Lanjut->87.d]] (set: $timer to 7) (set: $temp_branch_var to "87.d") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Bersamaan, Nik mengayun ransel dengan kedua tangannya, sekuat tenaga. Hantamannya mengenai tangan begal, melontarkan parangnya jatuh berdentang di aspal! (text-style:"shudder")[[[Lanjut->88]]]Nik meloncat mundur, tapi kakinya tidak mampu lagi mendukung. Dia malah terjatuh!! (text-style:"blink")[[[Lanjut->87.b.1]]]Nik berlindung dengan ranselnya, namun hantaman dari parang begitu kuat!! Ia terdorong mundur dan jatuh! (text-style:"blink")[[[Lanjut->87.b.1]]]Nik diam saja. Tapi parang terus membelah udara menuju... (hidden:)|skip>[[[Lanjut->78.c]]] (live:5s)[(goto: "78.c")]Tapi serangan bela diri itu membuat Nik kehilangan keseimbangan dan dijadikan kesempatan begal merebut ransel!! Niatnya, rampas dan langsung kabur. (text-style:"shudder")[[[Pegang erat ranselnya!->89]]] (text-style:"fade-in-out")[[[Relakan->81.c.2]]] { (set: $timer to 7) (set: $temp_branch_var to "81.c.2") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Tapi tangan Nik masih meremas ranselnya!! Nik tidak berpijak, terseret di tanah, sementara begal menarik ranselnya! (text-style:"shudder")[[[Lanjut->90]]]Akhirnya Nik ingat untuk teriak: (text-style:"rumble")[[[ANJING!->91.b]]] (text-style:"shudder")[[[BANGSAT!->91.c]]] (text-style:"rumble")[[[SETAAN!!->91.d]]] (text-style:"shudder")[[[TOLOONG!!->91.e]]] [[Semuanya->91]] { (set: $timer to 10) (set: $temp_branch_var to "91") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }(text-style:"rumble")["LEPASIN ANJING! ANJIIINNG!!!"] teriak Nik meski tahu Si Begal ini bukan siluman anjing. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->92]]](text-style:"shudder")["BANGSAT! LEPASIN SEKARANG!"] teriak Nik yang menyebut profesi lawannya dengan benar tapi lupa kalau dia bukan atasannya. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->92]]](text-style:"rumble")["SETAN!!! SETAN!!! SETAAAANNN!!!"] teriak Nik berulang-ulang meski dia tahu dia salah; tidak ada setan yang berprofesi sebagai begal, setahu dia. (set: $branch_var_C to 0)(hidden:)|skip>[[Lanjut->92]] (text-style:"shudder")[(link: "Lanjut")[(set: $branch_var_C to 1)(goto: "92")]](text-style:"shudder")["TOLOOOONGGG!"] teriak Nik berulang-ulang sampai suaranya serak. (set: $branch_var_D to 0)(hidden:)|skip>[[Lanjut->92]] (text-style:"shudder")[(link: "Lanjut")[(set: $branch_var_D to 1)(goto: "92")]](text-style:"rumble")["ANJING! BANGSAT! SETAAN!! TOLOONG!!"] teriak Nik berulang-ulang karena plin-plan apakah ingin mencaci begal atau minta tolong. (set: $branch_var_C to 0)(hidden:)|skip>[[Lanjut->92]] (text-style:"shudder")[(link: "Lanjut")[(set: $branch_var_C to 1)(goto: "92")]]Si Begal ganti strategi. Satu (text-style:"outline")[tinju] melayang tepat ke mulut Nik, melontarkannya dan cipratan (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah] dari hidungnya ke samping!!! (text-style:"blink")[[[Lanjut->93]]]Begal di tikungan sepi dekat keramaian efektif karena calon korban biasanya lengah apalagi kalau didekati pakai sepeda. Tapi prosesi pembegalan ini terlalu lama dan akhirnya mengundang perhatian. [[Lanjut->94]]Setan-setan (if: $branch_var_C is 1)[yang merasa terpanggil oleh Nik ] berdatangan! [[Lanjut->95]](text-style:"shudder")[Genderuwo] berteriak sambil berlari terengah-engah dari kegelapan ujung jalan yang lain. (text-style:"rumble")["BEGAL! BEGAAL! TANGKAAAP!"] [[Lanjut->96]]Dari balik semak, muncul (text-style:"shudder")[babi] jadi-jadian. "Mana begal?" katanya sambil melihat kiri-kanan padahal di depan matanya ada orang yang baru saja memukul sampai ber(color: "red")+(text-style:"shadow")[darah]. Entah bagaimana pengelihatan babi bekerja. [[Dasar Babi->97]]Beberapa orang lainnya, dan bukan orang, mulai berdatangan! Pertigaan tak lagi sepi. [[Lanjut->98]]Si Begal tidak putus asa. Ia membawa ransel curian ke arah sepeda Brompton-nya yang tergeletak. Dengan sigap, sepedanya diberdirikan. Sayangnya, massa sudah lebih sigap! [[Lanjut->99]]Untuk menahannya lari, Jenglot menggigit kakinya! Tuyul menyundul sendi kakinya hingga ia tertekuk dan terlentang! Seorang abang-abang menendang Si Begal saat jatuh! Babi dan seorang om-om merusak sepeda mewahnya agar tak bisa kabur! Sisanya mengeroyok begal yang coba berlindung dengan ransel curian. [[Lanjut->100]]Nik masih terkapar sendirian di tengah jalan dengan mulut belepotan (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah]. Saat mencoba bernapas, ia menyadari kalau warga sudah menangkap Si Begal. Seseorang dengan badan tegap dan kepala serigala yang ganteng |sidenote>[^^(tolong bayangkan sendiri serigala ganteng seperti apa)^^] mendekatinya lalu berlutut. [[Lanjut->101]](text-style:"smear")["Anda tidak apa-apa?"] katanya dengan suara serigala yang merdu. (set: $branch_var_E to 0)(hidden:)|skip>[["..."->102.b]](hidden:)|skip>[[Jawab->102.c]] (link: 'Mengangguk')[(set: $branch_var_E to $branch_var_E + 1)(goto: "102")] [["..."->102.b]] (if: $branch_var_D is 0)[[[Jawab->102.c]]]Nik diam saja dalam trauma yang membisukan. Serigala menatapnya khawatir sambil membantunya berdiri. [[Lanjut->102.f]]Nik mengangguk pelan. Serigala mengulur tangannya untuk membantu Nik berdiri. [[Lanjut->102.f]](text-style:"shudder")["..ah...hidak...afa...."] Nik mencoba berbicara menjawab Serigala, tapi mulutnya sangat tidak enak untuk dipakai bicara. (set: $branch_var_E to $branch_var_E + 2) Tambah lagi, dia masih syok. Meskipun begitu, dia langsung menggapai tangan Serigala untuk berdiri. [[Lanjut->102.f]]Pocong (text-style:"rumble")[melompat-lompat] di atas lambung Si Begal meski sesekali terpeleset! Jenglot (text-style:"shudder")[menggigiti] wajahnya! Tuyul bergantian dengan Si Abang-abang (text-style:"rumble")[menendang] Si Begal! Genderuwo yang tadi paling pertama datang akhirnya bilang, "Tahan, Pak! Cukup! ''Ini negara hukum!''" Ia merentangkan tangannya ke depan masing-masing pengeroyok. [[Lanjut->104]]Setelah massa mereda, Serigala meninggalkan Nik untuk menyusup ke kerumunan. Ia berbicara sebentar dengan Pak Genderuwo untuk izin mengambil barang rampokan. Lalu ransel itu diberikannya pada Nik. (text-style:"smear")["Ini punya Anda?"] tanyanya. (hidden:)|link>[[Mengangguk->105]](hidden:)|link>[[Langsung ambil->105.c]] [["..."->105.b]] (link: "Mengangguk")[(set: $branch_var_E to $branch_var_E + 1)(goto: "105")] (link: "Langsung ambil")[(set: $branch_var_E to $branch_var_E - 1)(goto: "105.c")]Lagi, Nik diam saja. Serigala kembali menyodorkan ransel itu padanya. Barulah dia mengambilnya dan memeluknya erat. [[Lanjut->106]]Nik mengangguk lagi pelan sambil menyeka (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah] dengan lengan jaket. [[Lanjut->106]]Tanpa bicara apapun, Nik (text-style:"shudder")[merampas] ranselnya dari tangan Serigala. Makhluk berbulu itu menjadi canggung dan segan padanya. [[Lanjut->106]]"Sini, Neng. Tahan dulu (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah]nya," kata seorang mbak-mbak yang dari tadi sudah datang buat nonton keroyokan. Mbak-mbak itu tidak menunggu respon Nik yang masih syok dan langsung meraih lengannya untuk membalutnya dengan kain. Entah kain bekas apa. [[Lanjut->106.b]]Sementara kerumunan orang yang sudah puas memberdirikan Si Begal dan menahan tangannya. Masing-masing punya usul. (text-style:"rumble")[[["Bakar aja pak!"->108]]] (text-style:"shudder")[[["Cekek pake rante!"->108]]] (text-style:"rumble")[[["Sedot getihna ku aing!"->108]]] (text-style:"shudder")[[["Giring ke polisi rame-rame!"->108]]] [["Tadi kayaknya liat polisi di sana."->108]] (text-style:"rumble")[[["Potong dulu tangannya!"->108]]]Tentu saja Pak Genderuwo lebih memilih usulan soal polisi. [[Lanjut->109]](text-style:"smear")["Rumah Anda di mana?"] tanya Serigala lembut tapi tiba-tiba kepada Nik. [["..."->110.b]] (if: $branch_var_D is 0)[[[Jawab->110]]]Lagi-lagi Nik terdiam. (if: $branch_var_D is 1)[Tiba-tiba ia terbatuk dan berdehem. Suaranya yang serak sepertinya bisa dipakai bicara lagi.] [[Lanjut->111]]"Deket mas," jawab Nik sambil menunjuk rumahnya di pinggir jalan yang agak jauh. (set: $branch_var_E to $branch_var_E + 1) [[Lanjut->111]]"Kita anterin ya, Neng," kata Si Mbak-mbak. (hidden:)|link>[["Nggak usah, Mbak. Makasih."->112.b]] [["Boleh, Mbak. Makasih."->112]] (link: '"Nggak usah, Mbak. Makasih."')[(set: $branch_var_E to $branch_var_E - 1)(goto: "112.b")](text-style:"smear")["Anda tidak akan ikut melapor ke kantor polisi?"] tanya Serigala. "Oh nggak, Mas. Aku pulang aja," jawab Nik langsung, menghindari urusan dengan polisi. (if: $branch_var_E is 4)[[[Lanjut->113.b]]](else:)[[[Lanjut->113]]]Nik menolak tawaran Si Mbak-mbak. (if: $branch_var_E >= 0)[[[Lanjut->112.b.1]]](else:)[[[Lanjut->112.b.2]]]Saat Pak Genderuwo dan massa menggiring begal dan sepedanya ke kantor polisi, Serigala dan Mbak-mbak mengantar Nik yang masih sulit berjalan ke rumahnya. [[Lanjut->114]]Di depan rumah, Nik berterima kasih lagi kepada mereka berdua. Ia merasa malu kalau harus merepotkan sampai ke dalam rumah. (if: $branch_var_A is 1)[[[Lanjut->112.b.4.1]]](else:)[[[Lanjut->115]]]Namun saat akan mengetuk pintu yang tidak tertutup rapat, Nik menyadari sesuatu. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->116]]]Serigala melihatnya tiba-tiba bergegas masuk. Ia mendengar dengan telinga serigalanya, dari dalam rumah, Nik berteriak, (text-style:"shudder")["Jeff! Jeff!"] (set: $branch_var_F to 0) (text-style:"shudder")[(link: "Langsung masuk")[(set: $branch_var_F to 1)(goto: "117")] [[Ajak Mbak-mbak masuk->117]]](if: $branch_var_F is 1)[Serigala langsung bergerak masuk.](else:)[Serigala menarik Mbak-mbak agar dia tidak pulang dulu dan ikut masuk ke rumah tersebut.] Terdapat tanda-tanda pintu didobrak. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->118]]]Perabot sedikit berantakan. Jejak kaki berbagai sepatu. Banyaknya sepatu boots. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->119]]]Nik masih panik dan (text-style:"rumble")[berteriak-teriak] mencari seseorang sampai dia terlihat turun dari tangga dan tersungkur menangis. (if: $branch_var_F is 0)[<br>Mbak-mbak mendekatinya.<br>] Serigala dengan mata dan intuisi serigalanya menganalisa situasi ini. (text-style:"shudder")[[[cek di luar!->120]]] [[dekati Nik->120.b]]Serigala bergegas keluar berharap menemukan sisa bayangan pendobrak rumah dengan mata serigalanya. Tapi tidak ada. (if: $branch_var_F is 1)[<br>Hanya ada Mbak-mbak yang ternyata masih berdiri di luar dengan penasaran dan khawatir.<br>] Serigala tidak paham apa yang terjadi di sini. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->121]]](if: $branch_var_F is 1)[Serigala ikut berlutut di samping Nik dan mencoba menenangkannya, apapun yang membuatnya menangis.](else:)[Serigala ikut menemani Nik yang sedang ditenangkan Si Mbak-mbak. ] Namun teriakan tangisnya yang masih sangat kencang (text-style:"rumble")[memekakkan] telinga serigalanya. Intuisi serigalanya atas hal yang tidak beres di sini tertutup oleh jeritan kesedihan itu. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->121]]]Dia tidak tahu apa yang terjadi di negeri yang asing baginya ini. Yang jelas, dia merasa banyak ketakutan. [[Lanjut->122]]Tiba-tiba, dengan hidung serigalanya, dia mencium (text-style:"blurrier")[bau asap bakar sate]. [[...->ENDA]] |title>[TAMAT] ^^[[Epilog->EpilogA.0]]^^"Makasih, Bang. Ini bayarnya," kata Kunti kepada Tukang Sate sambil menyodorkan selembar daun. [[...->EpilogA.1]]Tanpa emosi, Tukang Sate menunjuk pada simbol QRIS di kaca gerobaknya. Kunti melakukan scan dengan telepon genggam berbentuk daun tersebut. [[Lanjut->EpilogA.2]]"Sudah ya, Bang," kata Kunti sambil memperlihatkan layar daunnya. Tukang Sate mengangguk tanpa mengecek telepon genggamnya terlebih dulu. [[Lanjut->EpilogA.3]]"Makasih, Bang," "Hatur nuhun, Neng," Ucapan terima kasih mereka bersamaan. [[Lanjut->EpilogA.4]]Kunti langsung (text-style:"fade-in-out")[menghilang]. Bersamaan dengan itu, //walkie-talkie// menyala. [[Dengarkan->EpilogA.5]]"Misi selesai. Semua luak, kembali ke kandang! Ganti!" [[Jawab->EpilogA.6]]"Diterima, ganti," jawab Tukang Sate. Dengan segera, ia membereskan dagangannya dan menghilang di sisa kepulan (text-style:"blurrier")[asap...] --- ^^[[Ulang ceritanya dan jelajahi pilihan lain!->0]]^^H-Halo~ Ini adalah cerita interaktif pertama saya. Cerita terdiri dari halaman-halaman. Kamu bisa memilih halaman yang terbuka selanjutnya. [[Klik ini untuk tutorial->1.b]] [['APA ITU?'->9]] |title>[TAKUT] ^^oleh: Fajar F. Hakim^^ (hidden:)|skip>[[Lanjut->13]] (live: 10s)[(goto: "13")]"Ayam apa sapi, Neng?" tanya Tukang Sate. Kuntilanak mikir. [[Ayam->17]] [[Sapi->17.b]] [[Tanya harga->16]]Namun matanya tetap (text-style: "blur")[berkabut]. Akibatnya, saat ia sudah jauh dari kawanan pos ronda, ia jatuh tersandung. Lututnya menabrak aspal jalan, emosinya semakin (text-style: "outline")[gelap]. Seperti juga jalanan itu. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->51.b]]]Dengan lutut perih, Nik berusaha menguatkan diri dan berdiri. Kembali mengembara dengan (text-style:"smear")[terpincang]. (set: $branch_var_B to 0)(hidden:)|skip>[[Lanjut->51]] (link: "Lanjut")[(set: $branch_var_B to 1)(goto: "51")]Namun sepertinya dia lebih suka menghadap ke depan. Berharap apapun yang muncul dari semak atau belakang gampang dihalau seperti serangga yang berdengung. [[Lanjut->53]]Dengan kaki diayun cepat, Nik berlari melewati pos ronda. Sayangnya suara dan (text-style: "rumble")[sahut-sahutan] malah semakin kencang terdengar. (text-style: "shudder")[[[Lanjut->40.d]]]Kata-kata mereka tidak jelas, namun nada suaranya membuat Nik malu, terhina, geram! Angin meniup agar air matanya tak turun. (text-style: "fade-in-out")[[[Lanjut->50.c]]]Bukannya tidak kaget, (text-style:"smear")[kondisi] kakinya tidak memungkinkan untuk bereaksi lebih. Sebenarnya untuk lanjut berjalan saja terasa merepotkan. [[Lanjut->67]]'Bikin kaget aja!' pikirnya. Dia memandang suster ngesot di atas motor yang hilang ditelan gelap dan berjalan searah dengan motor itu. [[Lanjut->67]]Sesosok wanita, tapi mungil, muncul dari balik semak. Diikuti sosok lainnya yang serupa tapi laki-laki botak. [[Ah, tuyul->70.b]]Tanpa menyadari kehadiran Nik, mereka melintas begitu saja menyeberangi jalan. Sesekali terdengar mereka bertengkar, hingga masuk ke semak di sisi jalan seberang. 'Ah, tuyul,' pikir Nik. [[Lanjut->70.c]]'Jeff bilang mereka sangat produktif sebagai pekerja di perkebunan.' Nik mengingat kembali bahwa tuyul-tuyul ini yang membawa Jeff pada masalah. Lebih tepatnya, kepedulian Jeff pada persoalan tuyul. Tapi sebenarnya itu bukan urusan Nik. [[Lanjut->71]]Parang menancap bahu Nik yang lengah! (text-style:"shudder")[''Nik berteriak!''] (text-style:"rumble")[**Keras!!!!**] Sekeras dan sekencang ayunan parang yang memutuskan tali ranselnya! (text-style:"shudder")[[[Lanjut->77.b]]]Nik terkapar dengan (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah] bercucuran dari bahunya. Mulai mati rasa. Begal terdengar mendekatinya. Mengincar ransel yang masih tergantung di sebelah bahu Nik yang tidak terluka. (text-style:"shudder")[[[Lawan!->77.c]]] (text-style:"fade-in-out")[[[Pasrah->77.d]]]Begal mengangkat ransel dan menariknya dari punggung Nik. Dengan tenaga dan kesadaran yang masih ada, Nik mencoba menggenggam ranselnya! Naas bagi Nik, begal tak menoleransi sedikit pun gangguan. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->77.e]]]Begal dengan mulus melepas tas dari punggung Nik. Rupanya ia tak terlalu terburu untuk meraba-raba jaket dan celana Nik, mengambil telepon genggam dan dompetnya. Lalu menjauh. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->77.f]]]Dengan satu tikaman di bahu dan satu lagi di leher, Begal memuluskan usahanya. Korbannya tak lagi melawan. [[...->ENDC]] |title>[TAMAT] ^^...tapi tidak harus seperti ini. Tekan **tombol //undo//** untuk kembali ke halaman sebelumnya atau [[tekan teks ini untuk mengulang cerita->0]].^^(color: "red")+(text-style:"shadow")[Darah] terus mengucur. Kesadarannya terus menghilang. Sebelum semuanya gelap, ia memikirkan isi telepon genggam dan laptop di ranselnya. Rahasianya dan Jeff. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->77.g]]]Sekalipun dia bertahan, dia dan Jeff tidak akan selamat. 'Apalagi orang itu bukan begal,' pikir Nik. **'Bukan...'** [[...->ENDC]](text-style:"smear")[**Lehernya.**] Nik jatuh terkapar dengan (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah] keluar dari bacokan di lehernya. Pembunuhan yang tak perlu tapi mempermudah pembegalan. Pelaku lari membawa rampasan dan meninggalkan korban. [[...->ENDC]]Menembus gelap, Nik lari secepatnya. Arahnya sudah pasti, rumah tujuannya yang sudah tak terlalu jauh. (text-style:"shudder")["Tolooong!!! Begaaalll!!"] Nik berteriak sambil terengah.Sesekali lihat ke belakang untuk memastikan Si Begal tidak mengejar. Sepertinya tidak. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->80.e]]]Teriakannya menarik perhatian jalanan yang sepi. Orang-orang, dan bukan orang, baru keluar dari rumah mereka saat Nik melaluinya. Semuanya sama bingung. 'Itu cewek kenapa? Apa perlu didekati? Atau segera menuju arah munculnya?' (text-style:"shudder")[[[Lanjut->80.f]]]Sebelum ada yang memenuhi panggilannya, Nik sudah sampai ke pintu rumahnya. Langsung dia gedor pintu itu. (text-style:"shudder")[(if: $branch_var_A is 1)[[[Lanjut->80.g]]](else:)[[[Lanjut->80.h]]]]Berkali-kali digedor belum ada jawaban. (text-style:"rumble")["JEFF! BUKA CEPETAN!"] Teriaknya. "Iya bentar, jangan berisik!" jawab suara dari balik pintu. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->80.g.1]]]...yang ternyata tak terkunci atau tertutup. Sekali gedor, pintu terbuka lebar. Nik melihat pria tegap dengan jaket kulit. (text-style:"rumble")[[[!!!!!->80.h.1]]]Nik yang terkejut ditarik masuk. Pintu langsung tertutup. [[Lanjut->80.h.2]]Pria serigala yang penasaran dengan teriakan Nik sebelumnya mendekat ke rumah tersebut. Dengan telinga serigalanya ia mendengar (text-style:"blur")[teriakan yang tersumpal], lalu (text-style:"blurrier")[dentuman benda tumpul]. [[Lanjut->80.h.3]] Ia ingin bergegas masuk, tapi insting serigalanya memperingatkan tanda bahaya. Di rumah itu ada banyak orang. Urusan apapun yang terjadi di sana, bukan hal yang bisa ia hadapi sendiri. Bukan juga sesuatu yang biasa ia pahami. [[Lanjut->121]]Kunci dibuka, celah pintu melebar hati-hati. Jeff ingin memastikan bahwa itu benar-benar Nik, meski sudah yakin. Namun ia melihat cucuran air mata di wajah dan (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah] di bahu Nik. Ia segera membuka lebar pintunya dengan wajah terkejut. Nik langsung menabraknya. [[Lanjut->80.g.2]]Nik (text-style:"rumble")[menangis keras] di pelukan Jeff yang masih bingung. Perlahan, pintu tertutup. Menyamarkan suara tangisan Nik. Beberapa warga, genderuwo, tuyul, dan seekor(?) pria serigala yang penasaran berkumpul di depan rumah itu. [[Lanjut->80.g.3]]'Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan di sini,' pikir Si Pria Serigala dan mungkin mewakili pikiran warga lainnya. Mereka membubarkan diri. [[Lanjut->80.g.4]]Saat menjauhi rumah itu, hidung serigalanya mencium sesuatu: (text-style:"blurrier")[asap bakar sate]. [[...->ENDB]] |title>[TAMAT] ^^[[Epilog->EpilogB.0]]^^"Habis A!" kata tukang sate pada seorang pemuda. "Yaaah!" ujar si pemuda sambil langsung berbalik mengajak teman-temannya pergi. Di belakang mereka, Kuntilanak menunggu untuk bayar. [[Lanjut->EpilogB.1]] "Bang tadi jadinya sate ayam 30 tusuk, nasi 3," kata Kuntilanak menjelaskan sambil mengelus perutnya. Tukan Sate keheranan dengan Si Kuntilanak yang dari tadi minta tambah terus. Kalaupun tidak lapar, mungkin dia sedang (text-style:"smear")[stres]. Atau mungkin satenya seenak itu. Tukang Sate sedikit bangga. [[Lanjut->EpilogB.2]]"Jadi sembilan puluh rebu, Neng," kata Tukang Sate. Kunti menunduk merogoh bajunya sebentar. "Ini bayarnya," kata Kunti kepada Tukang Sate sambil menyodorkan selembar daun. [[Lanjut->EpilogB.3]] Dengan agak lelah, Tukang Sate menunjuk pada simbol QRIS di kaca gerobaknya. Kunti melakukan scan dengan telepon genggam berbentuk daun tersebut. [[Lanjut->EpilogB.4]]"Sudah ya, Bang," kata Kunti sambil memperlihatkan layar daunnya. "Iya, Neng. Nuhun." Tukang Sate tak memperhatikan Kunti karena sibuk membereskan peralatan panggang dan gerobaknya. Kunti berlalu begitu saja dan (text-style:"fade-in-out")[menghilang]. [[Lanjut->EpilogB.5]]Alat panggang sudah dibereskan, tinggal menunggu piring-piring pelanggan kembali. Tapi Tukang Sate ingin segera pergi mencari tempat sepi. "A, punten nitip gerobak sakedap," katanya kepada seorang pelanggan yang mulutnya sedang penuh. Ia mengangguk saja. [[Lanjut->EpilogB.6]]Tukang Sate pergi ke balik pohon untuk memastikan tidak ada yang mendengarnya. Mengeluarkan //walkie-talkie//. "Luak Delapan pada Luak Satu. Ganti," katanya. "Luak Delapan kembali ke kandang. Misi dibatalkan! Ganti," jawab suara dari //walkie-talkie//. [[Lanjut->EpilogB.7]] "Ada Kuntilanak tidak sengaja jadi penglaris," kata Luak Delapan alias Tukang Sate. "Terlalu banyak pelanggan, tidak ada kesempatan lapor, ganti," lanjutnya membela diri. "Kita terlalu lama menunggu intelijen. Situasi sudah berubah. Luak Delapan ditunggu di mar- ...kandang! Ganti!" jawab Luak Satu dengan nada kesal. "Diterima. Ganti." Tukang Sate agak lemas mendengarnya. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->EpilogB.8]]]'Ini bisa bikin susah naik pangkat,' pikirnya. 'Atau (text-style:"shudder")[dipecat].' Ia kembali ke gerobaknya sambil memikirkan percakapan barusan, juga anak dan istrinya. 'Kalau dipecat, buka warung sate pake modal pesangon bisa kali ya?' Ia coba menepis pikiran itu. Tidak ada pilihan karir yang bisa memberimu pistol selain jadi aparat. --- ^^[[Ulang ceritanya dan jelajahi pilihan lain!->0]]^^Tiba-tiba parang melayang ke arah Nik. (hidden:)|skip>[[Lanjut->78.c]] (text-style:"blink")[[[Lepas!->81.c.2]]] { (set: $timer to 2) (set: $temp_branch_var to "78.c") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] }Begal terjungkal! Begitu juga Nik. Kini ada jarak antara mereka berdua! Nik segera berdiri dan terpincang lari. (text-style:"rumble")[[[Lanjut->81.c.3]]]Meski terpincang, ia berhasil meninggalkan Begal, bersama ranselnya. Ransel dengan laptop berisi data penting yang akan membuat marah Jeff jika dicuri. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->81.c.4]]]Lari pincang sambil memikirkan itu, membuatnya sangat kelelahan. Setelah berlari cukup jauh, di bawah lampu jalan dekat rumah-rumah, dia (text-style:"rumble")[terjerembap]. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->81.c.5]]]Ia (text-style:"shudder")[menangis sekencangnya]. Setelah lelah dan kehabisan (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah] dari luka di bahunya, (text-style:"fade-in-out")[kesadarannya hilang]. Saat kepalanya akan menabrak tembok di samping jalan, sayup-sayup terdengar langkah kaki mendekatinya. Namun Nik sudah pasrah. [[...->ENDC]]Momen itu dimanfaatkan Begal untuk segera meraih ranselnya dan langsung kabur! Meninggalkan Nik sendirian di tanah. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->87.b.2]]]Sendirian. Bercucuran (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah]. (text-style:"shudder")[Menangis]. [[Lanjut->87.b.3]]Tidak ada yang dipikirkannya selain kengerian kejadian tadi.Meski dia tahu, hilangnya ransel miliknya bisa lebih mengerikan lagi. Ini menyangkut keselamatannya dan Jeff. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->87.b.4]]]Ia (text-style:"shudder")[menangis sekencangnya]. Setelah lelah dan kehabisan (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah] dari luka di bahunya, (text-style:"fade-in-out")[kesadarannya mulai hilang]. Yang terakhir ia dengar hanya sayup-sayup langkah kaki mendekatinya. Namun Nik sudah tak peduli. [[...->ENDC]]"$branch_var_A" variable dine-in takeaway kunti "$branch_var_B" variable keseleo "$branch_var_C" variable panggil setan "$branch_var_D" variable serak "$branch_var_E" variable serigala ganteng "$branch_var_F" variable mbak-mbak masukSaat lukanya dibalut, kerumunan massa masih (text-style:"shudder")[ribut]. Nik sedikit penasaran dengan nasib Si Begal. [[Lirik ke kerumunan->107]] [[Sebodo->109]]Segera setelah menegakkan punggungnya, Nik yang dibantu serigala ganteng itu berjalan ke arah kerumunan yang coba dibubarkan oleh Genderuwo. [[Perhatikan kerumunan->103]] [[Sebodo->104]]"Jangan gitu, Neng! Kan bahaya perempuan jalan sendiri malam-malam. Apalagi luka-luka gini," ujar Si Mbak-mbak tersebut memaksa. Nampaknya Nik memang tak punya pilihan. Dia menerima tawaran Si Mbak-mbak untuk diantar. Serigala juga sepertinya akan ikut. [[Lanjut->112]]Nik mulai mengangguk pamit kepada Si Mbak-mbak dan Si Serigala. Ia segera berbalik dan berjalan secepat mungkin. [[Lanjut->112.b.3]]Langkah pincangnya menelusur sepanjang jalan perumahan. Masih satu dua orang yang mendekati kerumunan di pertigaan. Beberapa hanya melihat ke arah Nik sekilas lalu kembali menuju kerumunan. [[Lanjut->112.b.4]]Akhirnya ia tiba di depan rumahnya dan mendekati pintu. (if: $branch_var_A is 1)[[[Lanjut->112.b.4.1]]](else:)[[[Lanjut->112.b.4.0]]]Pintu diketuk pelan berkali-kali. Karena lelah, ia menyandarkan kepala ke pintu; menjadi (text-style:"rumble")[ketukan yang keras]. [[Lanjut->112.b.4.1.1]]Sekali ketuk, pintunya terbuka. Karena tak terkunci. Karena kuncinya rusak. Didobrak. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->112.b.4.0.1]]]Mata Nik yang lelah terbelalak. Dia tahu ini mungkin terjadi, tapi dia tidak ingin memikirkannya. Segera saja ia masuk. (text-style:"shudder")[[[Masuk->112.b.4.0.2]]]Ditemukannya ruang tamu dengan serpihan vas bunga di lantai, menutupi jejak-jejak sepatu boots. Nik tahu siapa pemilik jejak itu. Jejak yang mengarah ke lantai atas tempat kamar Jeff berada. Kemungkinan terburuk, aparat membuatnya bunuh diri. (text-style:"shudder")["Jeff! JEFF!!"] Parau suara Nik memanggil-manggil dengan sedikit harapan panggilannya dijawab. (text-style:"rumble")[[[Naik tangga->112.b.4.0.3]]]Di lantai atas rumahnya, ada jendela yang pecah. Nik mengabaikannya dan membuka kamar Jeff. (text-style:"rumble")["Kak Jeff!!!"] Tidak ada siapapun di kamar yang lebih berantakan daripada biasanya itu. Ada bekas (color: "red")+(text-style:"shadow")[darah] yang disapu di lantai. Namun, tidak ada mayat yang dipaksa mati. Hanya kemungkinan jasad yang dicuri dan dihilangkan. Nik masih ingin menahan tangisnya dengan menutup mulut dengan tangannya. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->112.b.4.0.4]]]Namun saat ia kembali ke lantai bawah, (text-style:"rumble")[meledaklah tangisnya]. Dia berlutut di atas lantai yang kotor. Air matanya memperkeruh warna ubin di lantai yang disinari lampu fluorescent redup. Rumahnya semakin muram dan dinding-dindingnya semakin retak. Udaranya semakin sesak. Terdesak oleh lengkingan kesedihan dari segenap pita suara Nik. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->112.b.4.0.5]]]Di pusaran suram tersebut, hanya ada dia. Sendiri. (text-style:"fade-in-out")[[[Lanjut->112.b.4.0.6]]]Tidak jauh dari rumah, Serigala diam mengamati. Ia khawatir, jadi ia mengikuti jalan ke arah rumahnya. Ia melihat Nik menghilang di balik pagar, jadi dia pikir gadis itu baik-baik saja. Ia berbalik dan melihat tidak jauh darinya, Mbak-mbak yang menolong Nik juga mengikutinya dengan khawatir. Serigala memberi isyarat bahwa segalanya baik-baik saja. (if: $branch_var_A is 0)[Meskipun begitu, insting serigalanya berkata lain.] (if: $branch_var_A is 1)[[[Lanjut->80.g.4]]](else:)[[[Lanjut->121]]]"Nik?" Tanya suara dari balik pintu. Nik membalasnya dengan mulai menangis. Meski mendengar suara tersedu, Jeff membuka pintu dengan hati-hati. [[Lanjut->112.b.4.1.2]]Saat Jeff merasa aman, pintu ia buka lebar. Tangis Nik (text-style:"rumble")[meledak]. Jeff yang masih kebingungan langsung menerimanya saat Nik jatuh bersandar di dadanya. Sambil memeluknya, Jeff segera menariknya masuk dan menutup pintu. Menutup suara tangis Nik yang masih terdengar samar. (text-style:"fade-in-out")[(if: $branch_var_E >=0)[[[Lanjut->115.b]]](else:)[[[Lanjut->112.b.4.0.6]]]]Serigala diam mengamati Nik yang hilang di balik pintu. Mbak-mbak juga masih berdiri canggung. "Aku pulang duluan ya, Mas," ujar Si Mbak-mbak. (text-style:"shudder")["Baik, Bu,"] jawab Serigala. Muka Si Mbak-mbak berubah saat dikatai Ibu-ibu, namun tidak begitu terlihat di remang lampu teras rumah. [[Lanjut->115.c]]Tak lama setelah Si Mbak-mbak pergi, Serigala pun berbalik menjauh ke arah yang berlawanan. Meski telah menyaksikan sebuah musibah, Ia berpikir bahwa segalanya baik-baik saja. [[Lanjut->80.g.4]]Saat mereka akan berangkat, Serigala memperhatikan cara Nik berjalan. (text-style:"smear")["Tunggu!"] kata Serigala menghentikan rombongan. (text-style:"smear")["Kaki Anda terluka? Sebaiknya saya bawa Anda,"] katanya kepada Nik. [[Lanjut->113.b.1]]Nik kebingungan. Apa maksudnya dia akan dibawa oleh Serigala itu? Serigala jongkok dan menunjuk ke punggungnya. Maksudnya digendong? Nik melihat ke arah Mbak-mbak. (text-style:"shudder")[[[Lanjut->113.b.2]]]"Ayo, Neng. Naik aja," kata Si Mbak-mbak sambil memandunya naik ke punggung Serigala. Nik menerimanya dengan canggung. Serigala mencengkram erat kaki Nik. (text-style:"smear")["Pegang yang erat,"] kata Serigala. [[Lanjut->113.b.3]]Nik melingkarkan tangannya di leher serigala yang tebal dan berbulu. Setelah keduanya siap, Serigala berdiri dengan menggendong Nik di punggungnya. Wajah Nik yang (color: red+white)[memerah] kembali diarahkan ke Si Mbak-mbak untuk memastikan dia ikut menemani mereka untuk mengurangi malu. [[Lanjut->113.b.4]]Mereka bertiga pun menempuh perjalanan yang singkat. Di atas punggung Serigala, Nik merasa dinginnya malam dan kurangnya cahaya kalah oleh hangatnya bulu di leher Serigala yang tidak tertutup baju kemejanya. Nik merasa (text-style:"smear")[nyaman] di atas sana. [[Lanjut->113.b.5]]Di depan rumah, Nik minta diturunkan dari punggung yang nyaman itu. Mukanya yang masih agak (color: red+white)[merah] hanya samar terlihat dari lampu di teras rumahnya. [[Lanjut->113.b.6]]Ia kemudian berterima kasih lagi kepada Serigala dan Si Mbak-mbak. "Maaf, Mbak, Mas. Saya gak mau merepotkan kalau diantar sampai ke dalam rumah," katanya. Sebenarnya, ia juga tidak ingin membiarkan orang asing masuk ke rumahnya dan Jeff untuk saat ini. Mereka berdua memakluminya dan membiarkan Nik pergi memasuki teras rumahnya sendiri. (if: $branch_var_A is 1)[[[Lanjut->112.b.4.1]]](else:)[[[Lanjut->115]]]Saya jelaskan dulu cara main cerita interaktif ini. |sidenote>[^^Sebenarnya ada di deskripsi sih tapi takutnya kamu ga baca 🙃^^] Teks berwarna merah bisa diklik dan akan membuka halaman baru. [[Seperti ini->1.c]]Kamu bisa dihadapkan pada dua pilihan atau lebih untuk diklik yang masing-masing akan membawa pada halaman berbeda |sidenote>[^^(atau halaman yang sama, life's full of illusion of choice like that 😶)^^] [[Coba klik ini->1.c.1]] [[Atau ini->1.c.2]]<< Icon di kiri atas tiap halaman ini namanya **tombol //undo///ulang**. Jadi kamu bisa kembali ke halaman sebelumnya untuk cari tahu isi pilihan lain. Dengan demikian, kamu bisa menjelajah keseluruhan cabang cerita lebih cepat. Coba klik **tombol //undo//**. [[Klik untuk lanjut ^^(nanti)^^->1.d]]<< Icon di kiri atas tiap halaman ini namanya **tombol //undo///ulang**. Jadi kamu bisa kembali ke halaman sebelumnya untuk cari tahu isi pilihan lain. Ingat bahwa pilihan kamu mempengaruhi jalan dan akhir cerita. |sidenote>[^^(Sebenarnya hanya beberapa yang berpengaruh, sebagian lagi hanya ilusi 🤐)^^] Coba klik **tombol //undo//**. [[Klik untuk lanjut ^^(nanti)^^->1.d]]Beberapa halaman akan berpindah sendiri setelah beberapa detik. Kadang kamu harus mengklik pilihan dengan cepat sebelum halaman berpindah. Cirinya ada ini: { (set: $timer to 7) (set: $temp_branch_var to "1.e") (if: $timer < 2)[ |blink05s>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[(goto: $temp_branch_var)] ] (else:)[ |blinker>[^^$timer detik!^^] (live: 1s)[ (if: $timer is 1)[(goto: $temp_branch_var)] (else:)[ (set: $timer to it - 1) (set: $blinker to "|blink05s>[^^$timer detik!^^]") (replace: ?blinker)[$blinker] ] ] ] } [[Klik atau tunggu $timer detik untuk lanjut->1.e]]OK!! Kamu siap untuk masuk ke cerita nya. Kalau sudah selesai, silakan tulis komentar di halaman itch.io. Semoga menghibur!🙇‍ PS(click-replace: "PS")[PS: Sebenarnya ini bukan cerita horor. Mungkin horor juga sih, kalau dilihat dari perspektif tertentu] (text-style:"fade-in-out")[[[Mulai->1]]] (link: "Dine in?")[(set: $branch_var_A to 1)(goto: "18.b")](hidden:)|skip>[[Dine in?->18.b]] [[Takeaway?->18]]"Permisi ya, Neng," katanya sambil cengengesan kepada Nik yang mengangguk pelan. Mereka berdua lalu menyeberang jalan dan masuk lagi ke dalam semak. [[Lanjut->71]]